oleh

MENGENAL 4 PENJURU ANGIN DALAM FALSAFAH SUKU TORAJA

Lepongan News-Toraja -Secara umum, arah mata angin bagi suku-suku austronesia, asalnya bersifat setempat atau lokal dan relatif.  Hal ini bergantung kepada letak geografi dimana suatu suku itu berada, seperti utara, timur, selatan, dan barat.

Nah tahukah anda bahwa arah mata angin (utara, timur, selatan, barat) bagi sebagian besar suku-suku dijadikan patokan untuk melakukan berbagai kegiatan-kegiatan adat, salah satunya kita orang Toraja.

Dalam falsafah Toraja, arah mata angin adalah sesuatu yang sakral. Ini dipercayai para leluhur sehingga menjadi patokan suku Toraja dalam melaksanakan berbagai aktivitas baik adat maupun aktivitas rutin lainnya. Jika diurutkan maka utara adalah arah nomor satu atau yang paling utama, disusul timur, barat, dan paling rendah adalah selatan.

Lalu bagaimana para leluhur Toraja mempercayai ke empat penjuru angin ini? Simak penjelasannya ya..

Utara (Ulunna Langi’)

Arah Utara atau ulunna langi’, dianggap sebagai tempat bersemayamnya pencipta alam semesta, yang empunya segala kehidupan kita manusia. Itulah mengapa arah utara dipercayai sebagai arah yang paling mulia dan yang paling utama.

Salah satu kegiatan yang menjadi patokan arah utara dalam suku Toraja yaitu pembangunan/pembuatan Tongkonan atau rumah adat suku Toraja. Dimana pembangunannya, tongkonan harus dibangun menghadap ke utara, ke arah sang pencipta. Utara juga diyakini masyarakat Toraja sebagai arah datangnya leluhur kita.

Timur (Mata Allo, Matallo)

Arah Timur atau matallo, dianggap sebagai sumber lahirnya terang, kehidupan, dan kebahagiaan. Matallo juga merupakan tempat berdiamnya 3 kelompok dewa: Deata langi’ (Penguasa langit), Deata Kapadanganna (Penguasa Bumi) dan Deata Tangngana Padang (Penguasa isi perut bumi).

Salah satu kegiatan yang menjadi patokan arah timur dalam suku Toraja yaitu pelaksanaan upacara rambu tuka’ (kesukaan) disebelah timur tongkonan.

Barat (Matampu’)

Barat atau Matampu’, dianggap sebagai titik kematian atau titik kegelapan dimana matahari terbenam. Dan salah satu kegiatan yang menjqdi patokan arah barat dalam suku Toraja yaitu pelaksanaan upacara rambu solo’(kedukaan) disebelah barat Tongkonan.

Selatan (Pollo’na Langi’elatan atau Pollo’na langi’ dianggap sebagai arah dari segala hal-hal buruk atau tempat melepaskan segala yang kotor. Arah selatan ini juga diyakini sebagai tempat berkumpulnya arwah yang disebut puya.

Nah itulah 4 penjuru angin dalam falsafah suku Toraja , namun tahukah anda bahwa di era modern seperti sekarang ini, penerapan falsafah ini mungkin sudah tidak relevan lagi. apalagi sebagian etnis Toraja telah menganut kekristenan atau pengaruh akulturasi.

Tetapi yang perlu kita ambil adalah maknanya bahwa leluhur kita melihat pentingnya keselarasan, keserasian dan harmoni dengan lingkungan atau alam dan sesama makhluk ciptaan yang lain.

itulah mengapa falsafah ini jika dimaknai secara aktual, ingin mengingatkan kepada kita bahwa dalam kehidupan manusia ada dua hal penting: bila ada kebaikan maka ada juga keburukan, dan jika ada kelahiran maka jangan lupa ada hari kematian.(**)

Ditulis oleh: Eunike Pakiding

Penulis  dan Pothografer Generasi Toraya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed