oleh

Surat Terbuka dari Korban Banjir Bandang Lumpur dan Tanah Longsor di Pengungsian: Buat Kepala BPBD Lutra Letakkan Jabatan Secara Hormat

 

LUTRA, Lepongannews.com –

Surat Terbuka

Kepada Yang Terhormat,

Bapak Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lutra, Muslim Muhtar
Di
Tempat

Kami sangat yakin bahwa, Bapak Kalaksa BPBD Lutra apa tindakan antisipasi yang bapak lakukan dalam menghadapi bencana banjir bandang lumpur dan tanah longsor. Bapak sudah terlambat melakukan rapat koordinasi tertanggal 1 Agustus 2020, dalam penanggulangan banjir bandang yang melululantakkan kami warga korban bencana, sudah 38 korban jiwa yang ditemukan dan masih beberapa korban belum di dapat, harta, benda dan nyawa, rumah.

“Banjir ini berdampak mengerikan. Ada tiga kecamatan yang berdampak berat banjir bandang lumpur dan tanah longsor ini pak Kalaksa BPBD Lutra,” tutur Fajar To Saripa di status FB nya.

Ada sembilan Kecamatan di Bumi Lamaranginang ini yang terdampak banjir, ingat itu pak Kalaksa BPBD. Luwu Utara bahkan warga dari luar Kabupaten Lutra berkabung pak Muslim Muhtar.

Hingga penghentian pencaharian warga yang terbawa arus lumpur tanah longsor oleh Basarnaz, BPBD, Relawan, TNI, Polri. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lutra menyebut ada 38 korban jiwa, dan beberapa warga dilaporkan hilang belum ditemukan dan ribuan jiwa dievakuasi karena banjir bandang lumpur tanah longsor.

“Bapak Muslim Muhtar, ucap Fajar To Saripa mewakili korban banjir bandang di pengungsian, beberapa tahun lalu, BPBD Lutra telah melaksanakan kegiatan Kotijensi banjir. Dan saya salah satu ikut dalam kegiatan itu bersama rekan-rekan dari unsur yang lainnya (kala itu saya masih ditempatkan di BPBD Lutra),” terang Fajar To Saripa prihatin.

Pak Kalaksa BPBD Lutra, Muslim Muhtar dalam kotijensi itu jelas sekali, tindakan tindakan apa yang kita harus siapkan, dan apa tindakan antisipasi yang bapak telah lakukan dalam menghadapi banjir bandang lumpur serta tanah longsor?

“Kita masih bersyukur bahwa sungai Masamba yang mengalir dijantung ibukota Luwu Utara yang berjuluk Bumi Lamaranginang ini, masih sayang sama kita semua, sehingga air banjirnya dia angsur-angsur, nah coba kita bayangkan bila air sungai Masamba dan Meli, Radda itu, dia tumpahkan sekaligus?? Jangankan rumah kami, monumen Masamba Affair akan ditumbangkan dan tersapu bersih.

Bapak Muslim Muhtar yang kami hormati.
Perlu bapak ketahui, sebelum tragedi yang begitu pilu 13 Juli 2020 terjadi, apakah bapak dan pasukan orange nya datang melihat kondisi kami di jantung ibukota Luwu Utara kota Masamba?

Kami korban bencana banjir bandang lumpur disertai tanah longsor, agar bapak hadir bukan karena kami lapar, kami ingin berkomunikasi bapakkkk, sudah berapa perahu karet yang anda telah siapkan malam itu (13/7/2020)? Adakah posko pemantau debit air yang bapak dirikan? Berapa pelampung yang dibagikan ke masyarakat?? Tidak ada bapak yang mulia, tidak ada…. ,” tutur Fajar To Saripa tersendat sendat dan air matanya tanpa sadar keluar membasahi pipinya.

Nah, perlu bapak ketahui, almarhum bapaknya Arkam yang meninggal yang tak jauh daru rumah saya, hanya karena beliau kembali ingin menolong orang lain, sedangkan beliau almarhum tak punya alat RESCUE, dan banyak lagi keluarga-keluarga kami yang terbawa arus banjir bandang hanya karena mereka ingin menolong orang lain, dimana pasukan TRC Anda? Dan dimana alat RESCUE Anda.

“Ingatki bapak Muslim Muhtar, kejadian ini terjadi dijantung ibukota Luwu Utara, ditengah-tengah kota Masamba, yang tidak jauh dari Desa Radda dan Desa Meli Kecamatan Baebunta, yang mana akses dan fasilitas mudah terjangkau, tapi nyatanya banyak korban jiwa, bagaimana kalau kejadian ini terjadi di kecamatan, desa yang jauh dari kota?,” jelas pegawai Kecamatan Baebunta Selatan ini kecewa.

Ingatki pak Kalaksa BPBD, Muslim Muhtar kalau di Cina kejadian seperti ini pejabat itu meletakkan jabatannya secara jantan dan hormat sebagai tanggungjawab moral. Sedang di Jepang lebih parah lagi, pejabat yang gagal yang menghilangkan nyawa warganya, karena kelalaiannya dia akan lakukan HARAKIRI (Bunuh Diri) untuk menebus kelalainnya. Tapi kita Orang Indonesia, orang Masamba yang masih punya sipakatau, tapi biarlah pemimpin di daerah ini yang menetapkan Anda, masih layak atau tidak dalam memimpin korps baju orange itu.

“Dulu saya bangga menggunakan baju BPBD, sekarang saya malu menggunakannya, dan kami korban bencana banjir bandang mengharapkan DPRD Hearing itu BPBD,”harapnya.

Tidak ada yang lebih penting pada saat ini, kecuali mengerahkan semua upaya terbaik untuk menyelamatkan warga. Terutama sesegera mungkin mengevakuasi masyarakat yang rentan terhadap cuaca dan bencana ini seperti balita, ibu hamil dan orang tua. Bantuan persediaan makanan juga sangat penting untuk segera disalurkan ke daerah-daerah yang terpencil.

.(yus)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed