oleh

TABE’ : Toraya Bukan Anak Suku Luwu, Komentar Tarra’ SampetodingTokoh Sejarah/Adat

LUTRA, LEPONGANNEWS.COM – Putra-putri Toraya/Toraja merasa terusik dengan sebutan Toraya/Toraja sebagai anak suku Luwu, acara Mattemu Taung Kedatuan Luwu, yang diadakan pada 18-20 Januari 2018 silam serta beberapa literatur lainnya, termasuk publikasi di media massa.

Pada saat itu putra-putri Toraya melakukan beberapa aktivitas, yang menyatakan penolakan mereka terhadap klaim Toraya/Toraja sebagai anak suku dari Kedatuan Luwu, juga putra-putri Toraya menggelar pertemuan dengan lembaga-lembaga adat di Toraja, mereka menyampaikan keberatan melalui pemerintah daerah (Kesbangpol), maupun memasang spanduk-spanduk penolakan di sejumlah titik di Toraja kala itu.

Menanggapi aksi para pemuda ini, tokoh adat dan sejarah Toraja, Tarra’ Sampetoding, angkat bicara.
Menurut Tarra’, Toraja/Toraya bukan anak suku Luwu. Sebaliknya, Kerajaan Luwu didirikan oleh Patta Labunga, yang merupakan anak pertama Lakipadada dari Toraja.

Petikan penjelasan lengkap dari Tarra’ Sampetoding berdasarkan kisah Tomanurung Tamborolangi, yang dikirim ke redaksi karebatoraja.com, dan diteruskan ke wartawan media ini beberapa waktu lalu.

Sesuai yang kami ketahui dari orang-orang pintar “Topalambi’ ba’tu Topanguliran” dari Tongkonan Layuk Kaero Sangalla’,  Tomanurung Tamborolangi’ mempunyai keturunan 8 (delapan) orang anak; terdiri dari empat orang putri dan empat orang putra. Empat putrinya ini ikut serta dengan ayahnya “Mairat” kembali ke Negeri asalnya.

Putranya yang empat orang ini tinggal di “TANA TOI TANGNGA” (Toraya artinya Mala’bi’) mengajarkan dan menyebarkan Peradaban dan Kebudayaan, yang sekarang masih ada penganutnya mungkin sisa 10 orang yaitu “ALUK TODOLO” yang bercorak Hindu dan Buddha di Tana Toi Tangnga (TORAYA/TORAJA).

Lalu keempat Putra Tamborolangi’ dengan istrinya Sanda Bili’ yaitu; Tomembali Buntu Topatoto’, Sandaboro, Papailangi’, dan Mesok Datu Matampu.

Selanjutnya diriwayatkan bahwa putra pertama Tomambuli Buntu kawin dengan Bonggai Napo di Tongkonan Napo Dende’ melahirkan lima orang anak, masing-masing Palodang Dolo, Batara Guru Seredadi, Patiang Boro, Lambe Susu, dan Ampang.

Lalu, Palodang Dolo pergi ke Sangalla’, kawin dengan Puang Deatanna di Tongkonan Dulang Wala Sangalla’ Makula’, sepupu satu kalinya anak Mesok Datu Matampu’.

Batara Guru Seredadi kawin dengan Lai’ Ballang Leak dari Buntu Karua. Selanjutnya berpindah ke Ussu’ Tana Toporende Datunna Wara, melahirkan dua orang putra yaitu; “Batara Lattu Talisiba’ba’. Kemudian Batara Lattu Talisiba’ba’ kawin dengan Opu Datunna Wara melahirkan Sawerigading dan Tandiabeng.

Batara Napo Lando Guntu’ kembali ke Napo dan ke Baroko (Kabupaten Enrekang/sekarang, red) terus ke Mandar dan Mamuju (Sulawesi Barat, sekarang, red) cucu keturunannya.

Putra ketiga Tomambuli Buntu, yakni Patiang Boro, cucu keturunannya ke Saloso Ba’lele Kondongan dan Tikala serta menyebar di Toraya. Sedangkan Lambe Susu, ke Sesean Suloara bersuamikan Salogang dari Seko (Kabupaten Luwu Utara, sekarang, ted). Putra kelima, Ampang, ke Balusu Tongkonan Lingka Saile kawin dengan…??? melahirkan Rammang di Langi’. Rammang di Langi’ ini yang kawin dengan Tandiabeng saudara kembar Sawerigading melahirkan “Simpurusiang” (Bua Lolo).

Lalu putra kedua Tamborolangi’ yaitu Sandaboro ke Latimojong mengawini Ao’ Gading melahirkan Lakipadada dan Lai Mate Malolo.

Diriwayatkan bahwa pada masa itu masih terjadi manusia saling memangsa dan menelan. Menurut sejarah yang kami ketahui putra Lakipadada yang sulung bernama Patta Labunga (Patianjala) memperisterikan Simpurusiang (Bua Lolo). Patta Labunga putra sulung Lakipadada ini yang mendirikan Kerajaan Luwu. Jadi kalau demikian enam generasi sesudah Tamborolangi’ baru berdiri yang namanya ‘Kerajaan Luwu’.

Sudah menjadi Fakta Sejarah sesuai amanah dari Tongkonan Layuk Kaero Sangalla’ bahwa nama suku bangsa Toraya/Toraja pertama adalah:

#Tana Toi Tangnga (Tana=Negeri; Toraya=Mala’bi’/Mulia artinya “Negeri yang Mulia”) tahun 1000 sampai dengan tahun 1100 Masehi.

Kemudian berganti sebutan menjadi Tondok Lepongan Bulan Gontingna Tana Matari’ sesudah TAPADATINDO tahun 1683.

Jadi Kerajaan Luwu, nama Luwu itu baru ada sesudah Patta Labunga dengan istrinya Simpurusiang (Bua Lolo) mendirikan Kerajaan yang bernama “Luwu”.

Diriwayatkan bahwa Patta Labunga (Patianjala) dengan istrinya Simpurusiang yang membentuk dan mendirikan Kerajaan Luwu berkisar ± tahun 1260 sampai dengan 1275.

Pertanyaannya, apakah masih di Ussu istananya, atau beberapa generasi kemudian baru berpindah ke Malangke?

Kesimpulan kami bahwa mungkin satu generasi dari Patta Labunga (Patianjala) kemudian berpindah ke Malangke. Atau Patta Labunga (Patianjala) yang memindahkan ke Malangke, karena dekat dengan negerinya Simpurusiang (Bualolo) ke Balusu Toraja Utara (Sa’dan Balusu, sekarang, red).

Yang jelas ” menurut Prof DR.Mr. Soerjono Soekanto nama Luwu itu adalah anak suku dari Toraja. Karena anak suku dari Suku Bangsa Toraja itu terdiri dari 42 anak suku sampai Ampana (Sulawesi Tengah, sekarang, red) dan Bada’ (Sulawesi Barat, sekarang, red).

Kami tidak mau terjebak dalam romantisme sejarah masa lampau, akan tetapi sejarah bukan ‘dokumentasi mati yang bisu’. Jika demikian pertalian hubungan darah dan kekerabatan para leluhur masa lampau itu, hanya satu asal-usulnya, yaitu dari ‘Tomanurung’.

Di Toraja tidak ada KERAJAAN yang ada hanyalah sebutan PUANG, TOPARENGNGE’, MA’DIKA, SINDO’ dan SIAMBE’. Karena Tondok Lepongan Bulan Gontingna Tana Matari Allo itu, masing-masing melaksanakan Adat Istiadatnya di wilayah adatnya masing-masing, dengan Motto “Misa Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate”.

Memang betul kata Sejarawan Amerika dari Honolulu Hawai ‘Leonard Y. Andaya’, bahwa federasi Tallu Lembangna itu yang kuat pada masa dahulu kala, karena dari sanalah berasal manusia-manusia terpilih, yang kemudian hari menjadi pemimpin di dataran rendah. Negara Kerajaan Luwu, Negara Kerajaan Gowa, Negara Kerajaan Bone, Arung Matoa Wajo, Datu Soppeng, Addatuang Sidenreng, Addatuang ri Sawitto, Mandar dan Mamuju Pitu Ulunna Salu Karua Babana Minanga, itulah Celebes atau Sulawesi Selatan atau raja-raja Jawa menyebutnya ‘Tana Besi’.

Kami tidak bermaksud mengatakan rendah atau tinggi, golongan suatu suku bangsa, akan tetapi kami melihat dari perjalanan sejarah dan juga adat istiadat, dan peradaban kebudayaan suatu suku bangsa.

Kalau demikian cucu keturunan Tomanurung Tamborolangi’ itu yang memerintah Tana Celebes, sekarang Sulawesi Selatan. Tomanurung Tamborolangi’ ini berasal dari India Barat Daya, beliau adalah bangsa Arya, bangsa yang lebih mulia dari orang-orang Israel itu menurut Hitler.

Dari sejarah kita dapat memperoleh pengalaman batin yang segar, akan keberagaman peristiwa dan latar belakang manusia dalam sebuah kurun masa.

Sejarah menjadi hal yang mendasar dalam pembentukan identitas individu, masyarakat, suatu suku bangsa.

Oke, memang Sejarah akan memberi peluang munculnya interpretasi yang berbeda dari sebuah peristiwa yang sama, karena sejarah bukan sekadar laporan kejadian. Sejarah merupakan danau aspirasi, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Karena sejarah merupakan akumulasi dari segala pengalaman, upaya dan harapan, serta prestasi manusia dalam membangun peradaban.

Dalam suatu kesempatan yang diberikan kepada kami, untuk memberikan pemahaman sejarah, baik itu upacara Rambu Solo atau Rambu Tuka’, selalu kami mengingatkan kepada generasi muda Toraja bahwa: “Selalu terjadi kepada suatu suku bangsa, kadang-kadang arah gerak sejarah tidak hanya ditentukan oleh manusia. Ada kalanya manusia berada pada posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menatap pasrah terhadap keadaan. Misalnya terjadi peristiwa sosial, perang, kudeta, revolusi, merupakan wujud dari kehidupan yang sulit ditolak”.

Sejarah para leluhur itu penting dipahami oleh generasi muda Toraja sekarang ini terutama kepada generasi millenial, karena sejarah merupakan padang luas yang tak bersekat. Diperlukan tuntunan eksklusif untuk memetakan mana yang benar, dan mana yang palsu, dan atau direkayasa. Karena semua pihak berhak untuk bersejarah.

Sejarah adalah drama kehidupan yang riil. Eksistensi kita sebagai manusia tak ubahnya adalah mahluk sejarah, manusia itu pintar mengatur dirinya sendiri, karena kedudukan kita sebagai manusia adalah penggerak utama sejarah. (yustus/avelino arthur)

Bersambung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed